Benarkah Jurnal Terate merupakan media yang tidak jelas sebagaimana disampaikan oleh influencer Shaduk Jotosh? Sebelum memberikan penilaian, ada baiknya kita menelusuri terlebih dahulu sejarah, latar belakang pendirian, serta tujuan yang ingin dicapai oleh Jurnal Terate.

Sebuah media tentu dapat dinilai dari berbagai aspek, mulai dari identitas, tujuan, konsistensi pemberitaan, hingga kontribusinya terhadap masyarakat. Karena itu, menilai sebuah media hanya berdasarkan kesan atau pernyataan seseorang tanpa memahami sejarah dan proses yang melatarbelakanginya berpotensi menghasilkan kesimpulan yang kurang utuh.

Mari mengenal Jurnal Terate lebih dekat.

1. Awal Berdiri pada 2018: Berangkat dari Kebutuhan akan Ruang Gagasan

Jurnal Terate merupakan media khusus yang mulai hadir secara daring pada 2018 melalui subdomain Blogspot, yaitu jurnalterate.blogspot.com. Media ini diinisiasi oleh saudara-saudara dari sejumlah daerah, di antaranya Cabang Karawang, Lamongan, Bojonegoro, dan Lampung.

Sejak awal, Jurnal Terate dirancang sebagai ruang publikasi yang berfokus pada wawasan, informasi, pemikiran, serta perkembangan organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Tujuannya adalah menghadirkan sumber pengetahuan yang lebih terarah agar pembaca memiliki rujukan untuk memahami berbagai persoalan organisasi.

Pada masa itu, penyampaian gagasan dan informasi masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama dari segi anggaran, biaya operasional, dan sarana publikasi. Tidak semua saudara memiliki akses terhadap media massa yang dapat menampung pemikiran mereka.

Di sisi lain, dinamika organisasi kerap menjadi bahan perbincangan di media sosial, khususnya Facebook. Perbedaan pandangan sering kali berkembang menjadi perdebatan panjang yang tidak selalu menghasilkan pemahaman yang lebih baik.

Dalam situasi tersebut, Jurnal Terate hadir untuk menyediakan ruang alternatif bagi penyampaian gagasan, informasi, dan pemikiran secara lebih terstruktur. Harapannya, pembahasan mengenai organisasi tidak hanya berhenti pada perdebatan di media sosial, tetapi juga terdokumentasi dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca kembali.

Dengan demikian, gagasan yang disampaikan oleh seseorang tidak hilang begitu saja setelah perbincangan selesai. Tulisan tersebut dapat menjadi arsip digital yang bisa diakses oleh siapa pun, baik sekarang maupun pada masa mendatang.

Bagi Jurnal Terate, menulis bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan juga mendokumentasikan pemikiran dan merekam perjalanan sejarah.

2. Tahun 2019: Beralih ke Domain jurnalterate.com

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan untuk membangun identitas media yang lebih kuat semakin terasa. Pada 2019, Jurnal Terate mulai menggunakan domain jurnalterate.com.

Peralihan ini menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan Jurnal Terate. Penggunaan domain tersendiri memberikan identitas yang lebih mudah dikenali sekaligus memperkuat keberadaan media tersebut di ruang digital.

Pada periode yang sama, dinamika internal PSHT menjadi perhatian banyak pihak. Berbagai persoalan organisasi, perbedaan pandangan, serta perkembangan proses pengesahan warga turut menjadi bahan diskusi di berbagai ruang komunikasi.

Situasi tersebut memperlihatkan pentingnya ketersediaan informasi yang terdokumentasi dengan baik. Ketika informasi beredar dengan cepat, pembaca membutuhkan ruang untuk memahami persoalan secara lebih utuh, bukan sekadar mengikuti potongan pernyataan yang tersebar di media sosial.

Kemudian, pandemi COVID-19 pada 2020 membawa perubahan besar terhadap berbagai aktivitas masyarakat dan organisasi. Pembatasan kegiatan serta kebijakan pemerintah memengaruhi penyelenggaraan sejumlah kegiatan, termasuk aktivitas yang berkaitan dengan pembinaan dan pengesahan warga.

Dalam konteks tersebut, keberadaan media digital semakin relevan sebagai sarana penyampaian informasi dan dokumentasi.

Penggunaan domain .com menjadi bagian dari upaya Jurnal Terate membangun identitas digital yang lebih mandiri dan profesional. Namun, identitas sebuah media tentu tidak cukup dibangun melalui nama domain semata. Konsistensi, kualitas tulisan, ketepatan informasi, dan tanggung jawab dalam menyampaikan berita tetap menjadi unsur yang tidak kalah penting.

3. Tahun 2020: Menghimpun Penulis dan Mengevaluasi Perkembangan Media

Perjalanan Jurnal Terate menunjukkan bahwa pembacanya tidak terbatas pada anggota PSHT. Masyarakat di luar organisasi juga menunjukkan ketertarikan terhadap informasi dan tulisan yang diterbitkan.

Salah satu indikasi keterlibatan pembaca pada masa itu adalah adanya layanan pemberitahuan melalui email yang dapat diikuti secara gratis. Melalui layanan tersebut, pembaca berkesempatan memperoleh informasi terbaru dari media yang mereka ikuti.

Respons pembaca tersebut menjadi dorongan untuk melakukan evaluasi dan meningkatkan kualitas pengelolaan media. Jurnal Terate mulai memandang bahwa keberlanjutan sebuah media tidak cukup hanya mengandalkan semangat pendirinya. Diperlukan pula sumber daya manusia, kemampuan jurnalistik, pengelolaan konten, dan pembagian peran yang lebih terarah.

Dalam proses tersebut, Jurnal Terate menghimpun penulis yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam bidang jurnalistik, termasuk Agus Bajil dan sejumlah kontributor lainnya.

Langkah ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperkuat kualitas tulisan, memperluas kontribusi penulis, serta membangun tradisi literasi di lingkungan organisasi.

Media yang baik tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menulis, tetapi juga orang yang bersedia membaca, memeriksa fakta, memahami persoalan, dan menyampaikan informasi dengan bertanggung jawab.

Karena itu, pengembangan Jurnal Terate tidak semata-mata berorientasi pada banyaknya artikel yang diterbitkan, melainkan juga pada upaya membangun ruang dokumentasi dan pertukaran gagasan.

4. Tahun 2021: Turut Menginisiasi Berdirinya Jurnalis Terate Indonesia

Dinamika organisasi yang berkembang pada periode tersebut turut memunculkan kegelisahan di kalangan penulis dan pegiat media. Perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan dan arah organisasi menjadi bagian dari persoalan yang ramai dibicarakan.

Di tengah situasi seperti itu, kebutuhan akan informasi yang berimbang, dokumentasi yang tertata, dan ruang komunikasi yang bertanggung jawab semakin terasa.

Sejumlah saudara yang memiliki pengalaman dalam dunia media kemudian berinisiatif membangun wadah yang lebih luas bagi para jurnalis di lingkungan PSHT. Dalam proses tersebut, Jurnal Terate turut mengambil bagian sebagai salah satu penginisiasi berdirinya Jurnalis Terate Indonesia pada 2021.

Kehadiran wadah tersebut diharapkan dapat mempertemukan para pegiat jurnalistik, memperkuat komunikasi antarpelaku media, dan meningkatkan kualitas penyampaian informasi mengenai organisasi.

Peran media dalam situasi seperti ini bukan sekadar menjadi penyampai kabar, apalagi hanya menjadi alat untuk memperkuat satu kelompok. Media seharusnya membantu pembaca memahami persoalan melalui informasi yang jelas, argumentasi yang dapat diperiksa, dan dokumentasi yang bisa dirujuk kembali.

Dalam kaitannya dengan peringatan satu abad PSHT, kebutuhan akan dokumentasi perjalanan organisasi juga menjadi semakin penting. Peristiwa, gagasan, dan pandangan dari berbagai pihak merupakan bagian dari perjalanan sejarah yang patut dicatat dengan cermat.

Dengan demikian, pendokumentasian bukan hanya berguna untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran bagi generasi mendatang.

5. Tahun 2023–2026: Vakum dan Kembali Hadir di Tengah Perubahan Arus Informasi

Setelah melewati berbagai proses, Jurnal Terate sempat mengalami masa vakum pada 2023. Aktivitas publikasinya kemudian kembali dilanjutkan pada 2026.

Kembalinya Jurnal Terate tidak dapat dilepaskan dari perubahan cara masyarakat mengakses informasi. Media sosial, khususnya platform berbasis video pendek seperti TikTok, telah mengubah pola komunikasi publik secara signifikan.

Informasi kini dapat menyebar dalam waktu singkat. Seseorang dapat menyampaikan pandangan kepada banyak orang hanya melalui sebuah video berdurasi pendek. Perkembangan ini tentu membawa manfaat, terutama dalam memperluas jangkauan komunikasi.

Namun, terdapat pula tantangan yang perlu diperhatikan. Informasi yang kompleks terkadang dipadatkan secara berlebihan, sedangkan persoalan yang membutuhkan penjelasan panjang justru disampaikan dalam bentuk potongan pernyataan. Akibatnya, pembaca atau penonton berisiko memahami persoalan hanya dari satu sudut pandang.

Dalam dinamika organisasi, kondisi tersebut dapat membuat perbedaan pendapat semakin mudah berkembang menjadi pertentangan. Istilah seperti “sudah biasa” atau “oalah” mungkin mencerminkan kejenuhan sebagian orang terhadap persoalan yang terus berulang. Akan tetapi, respons semacam itu tidak selalu membantu masyarakat memahami akar masalah.

Keresahan terhadap keadaan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya menghidupkan kembali ruang publikasi yang berorientasi pada tulisan, dokumentasi, dan pertukaran gagasan.

Pada saat yang sama, munculnya berbagai influencer telah menciptakan pola komunikasi baru. Sebagian pembuat konten lebih mengutamakan kecepatan, daya tarik, hiburan, dan peluang memperoleh jangkauan luas. Hal itu merupakan bagian dari perkembangan media digital yang tidak bisa dihindari.

Meski demikian, popularitas dan kedalaman pemikiran merupakan dua hal yang berbeda. Konten yang mudah menarik perhatian belum tentu memberikan penjelasan yang memadai. Sebaliknya, tulisan yang disusun melalui proses membaca, meneliti, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan perhatian, tetapi dapat memberikan nilai dokumentasi dan pengetahuan yang lebih bertahan lama.

Kritik terhadap influencer bukan berarti semua konten video pendek tidak bermutu. Video pendek pun dapat menjadi sarana edukasi yang bermanfaat. Persoalannya terletak pada bagaimana informasi disampaikan, apakah didukung fakta, apakah memberikan konteks yang cukup, dan apakah membuka ruang pemahaman atau justru memperkeruh persoalan.

Dalam konteks inilah Jurnal Terate berupaya kembali mengambil peran sebagai media yang menyediakan ruang bagi gagasan, pemikiran, informasi, dan dokumentasi perjalanan organisasi.

6. Lalu, Apakah Jurnal Terate Merupakan Media yang Tidak Jelas?

Kembali pada pertanyaan awal: apakah Jurnal Terate benar-benar merupakan media yang tidak jelas sebagaimana disampaikan oleh influencer Shaduk Jotosh?

Untuk menjawabnya secara adil, kita perlu membedakan antara kritik terhadap kualitas media dan penilaian terhadap keberadaan media itu sendiri.

Apabila yang dipersoalkan adalah kualitas tulisan, ketepatan informasi, konsistensi publikasi, independensi, atau profesionalitas pengelolaan, hal-hal tersebut dapat dibahas melalui contoh dan bukti yang konkret. Kritik semacam itu justru dapat menjadi bahan evaluasi bagi perkembangan sebuah media.

Namun, apabila penilaian tersebut hanya didasarkan pada kesan tanpa mempertimbangkan sejarah, tujuan, dan kontribusi yang pernah dilakukan, kesimpulan yang dihasilkan berisiko tidak menggambarkan keseluruhan perjalanan Jurnal Terate.

Sejak hadir pada 2018, Jurnal Terate telah melalui beberapa fase: dimulai dari penggunaan subdomain Blogspot, beralih ke domain jurnalterate.com pada 2019, menghimpun penulis, turut menginisiasi Jurnalis Terate Indonesia pada 2021, mengalami masa vakum, hingga kembali hadir pada 2026.

Rangkaian perjalanan tersebut menunjukkan adanya proses dan upaya yang patut ditelaah sebelum sebuah penilaian diberikan.

Tentu saja, sejarah panjang tidak otomatis menjadikan sebuah media bebas dari kekurangan. Setiap media tetap perlu membuktikan kualitasnya melalui karya, ketepatan informasi, keterbukaan terhadap kritik, serta tanggung jawab kepada pembaca.

Karena itu, Jurnal Terate pun harus bersedia dievaluasi. Jika terdapat kekurangan dalam penyajian informasi, pengelolaan konten, atau praktik jurnalistik, perbaikan merupakan bagian dari proses pendewasaan media.

Akan tetapi, evaluasi sebaiknya dilakukan dengan dasar yang jelas. Kritik yang disertai argumentasi dan bukti akan lebih bermanfaat daripada sekadar memberikan label yang belum dijelaskan ukurannya.

7. Jurnal Terate dan Pentingnya Merawat Tradisi Literasi

Di tengah perkembangan teknologi, masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk memperoleh informasi. Ada media berita, forum diskusi, kanal video, media sosial, dan berbagai platform digital lainnya.

Setiap platform mempunyai karakteristik serta kelebihan masing-masing. Media sosial unggul dalam kecepatan dan jangkauan, sedangkan tulisan yang terdokumentasi dengan baik dapat memberikan ruang lebih luas untuk menguraikan latar belakang, menyusun argumentasi, dan mencatat peristiwa secara sistematis.

Jurnal Terate berupaya mengisi ruang tersebut.

Harapannya, media ini tidak hanya menjadi tempat menyampaikan informasi mengenai PSHT, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama. Sebuah ruang yang memungkinkan gagasan diuji, pemikiran diperdebatkan secara sehat, dan perjalanan organisasi dicatat agar tidak terputus dari ingatan generasi berikutnya.

Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan organisasi. Yang perlu dijaga adalah bagaimana perbedaan itu dikelola. Perdebatan seharusnya mendorong lahirnya pemahaman, bukan sekadar memperpanjang pertentangan.

Demikian pula, kritik terhadap media seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas informasi, bukan semata-mata menjadi sarana menjatuhkan pihak lain.

Jurnal Terate masih memiliki pekerjaan rumah. Konsistensi penerbitan, penguatan standar jurnalistik, pengembangan jaringan penulis, serta peningkatan kualitas konten merupakan bagian dari tantangan yang harus dijawab dalam perjalanan berikutnya.

Namun, upaya membangun tradisi menulis, membaca, dan mendokumentasikan gagasan tetap memiliki arti penting, terlebih ketika arus informasi semakin cepat dan persoalan organisasi semakin mudah menjadi konsumsi publik.

Penutup: Menilai Media dari Karya dan Tanggung Jawabnya

Jurnal Terate bukanlah media yang lahir tanpa latar belakang. Ia berawal dari inisiatif sejumlah saudara pada 2018 yang ingin menyediakan ruang publikasi bagi gagasan dan informasi mengenai PSHT. Perjalanannya kemudian berkembang melalui penggunaan domain tersendiri, penghimpunan penulis, keterlibatan dalam inisiatif Jurnalis Terate Indonesia, hingga upaya untuk kembali aktif pada 2026.

Perjalanan itu tentu tidak menjadikan Jurnal Terate sempurna. Namun, sejarah tersebut memberikan konteks yang penting untuk memahami alasan media ini didirikan dan tujuan yang ingin dicapainya.

Oleh sebab itu, apabila ada pihak yang menilai Jurnal Terate sebagai media yang tidak jelas, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagian mana yang dianggap tidak jelas, apa dasar penilaiannya, dan bukti apa yang mendukung penilaian tersebut?

Pertanyaan itu penting agar perdebatan tidak berhenti pada label, tetapi berkembang menjadi diskusi yang lebih substantif.

Pada akhirnya, sebuah media seharusnya dinilai melalui karya, kualitas informasi, integritas, dan tanggung jawabnya kepada pembaca. Sebaliknya, pengelola media juga perlu terbuka terhadap kritik dan terus memperbaiki kekurangan.

Jurnal Terate kembali hadir dengan harapan dapat berkontribusi dalam merawat tradisi literasi, menyumbangkan gagasan, serta mendokumentasikan perkembangan organisasi secara lebih terarah.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi, masyarakat tidak hanya membutuhkan konten yang cepat dilihat dan mudah dibagikan. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan yang dapat dipelajari kembali, pemikiran yang dapat diuji, dan catatan sejarah yang dapat diwariskan.

Popularitas mungkin membuat sebuah informasi cepat dikenal, tetapi dokumentasi, kedalaman pemikiran, dan tanggung jawablah yang menentukan nilai sebuah karya dalam perjalanan waktu.